Kamis, 02 Januari 2014

KOTAK



Saat itu pertama kalinya aku memasuki kelas baruku ketika duduk di kelas 1 SMEA Negeri dibilangin Kota, Jakarta Barat. Aku datang tidak terlambat tetapi kelas telah penuh, maklum kelas baru, semua antusias.

Aku berdiri di depan pintu lalu masuk sedikit kedalem untuk mencari bangku yang kosong. Kursi dibelakang rata-rata sudah penuh, meskipun antusias ternyata hampir semua tak berani duduk di depan.

Tiba-tiba seorang anak perempuan yang duduk sendirian di urutan terdepan baris kedua dari pintu menoleh kearahku, dengan penuh ceria, semangat dan sedikit berteriak meminta aku duduk disampingnya, “disini aja duduknya sama aku ya! namaku F(cukup inisial)”, katanya. Aku cukup terkejut karena permintaannya yang penuh semangat, lalu aku mengiyakan, memperkenalkan nama dan mengobrollah kami dengan santai sampai bel kelas berbunyi dan guru datang.

Ketika jam istirahat berbunyi teman baruku mengajakku makan siang ke kantin tapi aku menjawab bahwa aku ingin sholat dzuhur dulu baru makan, dan dia terkejut sambil berkata “Oh Lenny Islam ya?!” aku cuma mengangguk, sedikit bingung.

Sehabis sholat dzuhur dan masih duduk di Mushola ada yang menghampiriku, namanya H(juga cukup inisial, yang pasti namanya bahasa Arab), dengan terkejut H berkata “Oh Lenny Islam, kok duduk disana tadi?” aku yang bingung menjawab “memangnya kenapa?” lantas H berkata “ itukan deretan anak Kristen” dan masih dengan kebingungan aku menjawab “Ooh, memang harus dipisah gitu ya?” ragu H menjawab “nggak tau juga sih, tadi ada anak Islam yang duduk di baris pertama dari pintu tapi ada yang tegur dan bilang jangan duduk disitu karena sudah ada orangnya. Nanti habis makan cari tempat duduk dibaris ketiga atau keempat dari pintu aja ya!?” katanya. Dengan ragu aku mengatakan tak akan enak dengan teman baru sebangkuku tadi, tapi H meyakinkan kalau aku tidak pindah aku tidak akan nyaman dan akan dicuekin. Dan benar saja, ketika aku masuk kelas lagi F memunggungiku dan menjadi ceria kembali ketika aku pamit untuk pindah tempat duduk.

Kesan pertama dikelas baru memang sungguh tak kan terlupa, mungkin dulu karena aku belum berhijab dan namaku bukan bahasa Arab jadinya terlihat seperti anak keturunan. Tapi kenapa harus dipisah. Rasa nasionalisku terusik.

Saat ini pun aku yang sudah berhijab tetap tak habis fikir, kenapa harus dipisah.

Bukankah kita sama-sama ingin menimba ilmu yang sama, diruangan yang sama dan guru yang sama. Kenapa kelas harus dibelah menjadi dua, kenapa harus dikotak-kotakkan.

LeHa

SELAMAT



Ujian akhir kelas 3 SMEA-ku sudah di depan mata, sungguh hari-hari yang penuh dengan berbagai rasa. Khawatir nilai tidak bagus, senang hampir lulus, bingung setelah ini akan kemana, sedih karena akan banyak perpisahan.

Seiring berjalannya waktuku selama tiga tahun ini, ada satu hal yang membuatku semakin cinta akan sekolah ini, aku merasa semakin dekat dengan Tuhan. Kelas yang terbagi dua karena agama. Candaan guru yang notabene punya kekuasaan terhadap murid yang agamanya berbeda. Candaan seorang teman tentang agamanya sendiri kepada temannya yang beda agama. Menarik.

Perbedaaan agama antar murid dengan murid, murid dengan guru, dan guru dengan guru yang jelas terbelah dua ternyata membuatku semakin mencintai sekolah ini dan semakin mencintai Tuhanku.

Sehingga genaplah niatku untuk menggunakan hijab.

Mamaku menangis terharu, karena sudah sedari kecil memintaku menggunakan hijab.

Teman-temanku yang se-agama senang dan mendukung.

Teman-temanku yang tidak se-agama terkejut namun tetap dengan senyum, tentunya setelah tiga tahun kebersamaan yang kami lalui.

Guru-guru juga tampak tersenyum ketika mengajar melihat perubahanku.

Dan tak akan ku lupakan, seorang guru yang kini telah tiada, yang berbeda agama dengan ku, berasal dari Sumatera Utara juga terlihat senang dengan perubahan penampilanku. Dia adalah guru yang biasanya sedikit bercanda tentang agama di kelas, karena aku seorang murid aku cukup diam dan terima.

Pak Guru tersebut terkejut dengan penampilan baruku dan menghampiriku sambil menyodorkan tangannya dan berkata “selamat ya Len sudah pakai kerudung, jadi lebih baik lagi ya”, aku tertegun sejenak lalu tersenyum dan menyambut tangannya sambil berucap “terimakasih Pak”.

Sungguh indah.

 

Leha