Making A Leader
Ibu adalah Penolong Segala
yang Buah Hati Inginkan
Ibu untuk buah hati adalah
segala-galanya, tak terhingga, apapun yang diperlukan buah hati akan selalu
dilakukan Ibu. Mulai dari buah hati lahir ke dunia Ibu harus siap lahir batin
memberikan ASI. Yup lahir batin, karena tidak semua Ibu bisa dengan mudah langsung
menyusui buah hatinya setelah melahirkan tanpa ada masalah.
Rasa perih bahkan tak jarang menangis merupakan hal yang mungkin dialami seorang Ibu pada saat awal menyusui. Akan tetapi Ibu harus tetap memberikan ASI kepada
sang buah hati karena ASI
eksklusif adalah asupan utama yang sangat sempurna untuk bayi 0-6 bulan.
Mempertahankan pendirian Ibu
untuk tetap memberikan ASI saja sampai 6 bulan juga bukan merupakan hal mudah,
tidak jarang justru tantangan itu datang dari orang dekat keluarga, seperti
Ayah, Kakek Nenek atau keluarga lainnya yang banyak menganjurkan pemberian susu formula.
Jika bukan karena Ibu
mempertahankan untuk tetap memberikan ASI saja demi sang buah hati, misalkan
ditengah perihnya puting karena luka atau dorongan Ayah yang tidak tega
melihat Ibu meringis setiap menyusui, mungkin Ibu akan menyerah. Tapi demi buah
hati, Ibu tetap mempertahankan prinsip itu.
Bergadang untuk menemani sang
buah hati adalah hal wajib yang harus dilakukan Ibu karena bayi jam tidurnya
belumlah jelas, masih sesuka hatinya kapan dia mau tidur, main dan makan.
Setelah masuk usia 7 bulan MPASI
mulai Ibu berikan. Dalam usia buah hati saat ini Ibu akan semakin sibuk karena
selain mengurus rumah & menyiapkan makanan untuk Ayah/keluarga, Ibu juga
harus menyiapkan MPASI untuk sang buah hati karena masih berbeda menunya dari
menu makanan sehari-hari keluarga.
Seiring berjalannya waktu, Ibu mulai
mengajarkan buah hati duduk, merangkak, berjalan, berlari dan berbicara serta mengajarkan buah hati bisa makan sendiri
dengan baik dimeja makan, minum menggunakan gelas dan mengajarkan agar buah
hati untuk membuang air ke kamar mandi.
Dengan bertambahnya usia Ibu juga
berusaha mengajarkan buah hati mulai bernyanyi, berhitung dan membaca.
Benar-benar tak terhingga yang
Ibu berikan untuk buah hatinya.
Meskipun hal itu dilakukan
bersama dengan Ayah atau anggota keluarga lain, tetapi
tetap saja penentu utamanya adalah Ibu.
Pembentukan Karakter
Setelah yang Ibu lakukan
untuk buah hati dengan penuh lelah seperti hal-hal yang digambarkan diatas, ternyata
ada hal utama yang harus Ibu lebih persiapkan untuk buah hatinya, yaitu
pembentukan karakter.
Karakter buah hati tidak hanya
dari gen yang diturunkan, akan tetapi lebih besar juga dari lingkungan yang biasa
diterimanya dari yang selama ini diajarkan oleh Ibu dan Ayah, juga oleh
anggota keluarga lainnya dan lingkungan berada.
Tanpa karakter yang ditanamkan
kepada buah hati sejak lahir kedunia hingga bertambah usianya, semua
kelelahan yang dilakukan diatas bisa menguap tanpa dihargai sang buah hati
ketika besar nanti, mengapa? Karena karakter yang baik akan membuat buah hati
lebih menjadi sosok pribadi yang lebih menghargai dirinya, menghargai orangtua dan keluarganya, serta menghargai orang lain siapapun itu.
Pembentukan karakter ini jauh lebih sulit daripada mengajarkan buah hati berjalan atau berbicara. Karakter
perlu bertahun-tahun dibentuk, dan itu harus dimulai sejak buah hati lahir
kedunia.
Ibu harus lebih sabar ketika
mengajarkan buah hati menjadi orang yang lapang dada dengan mengajarkan buah hati bersedia meminjamkan mainannya kepada teman atau mau mengalah ketika
sedang memperebutkan sesuatu dengan temannya. Ini bukan perkara mudah. Pengajaran tidak hanya diberikan ketika sedang terjadi perebutan mainan, akan
tetapi terus-menerus diselipkan seperti ketika sedang mengobrol. Ibu harus
menyelipkan nasihat bahwa menjadi orang yang mengalahkan itu bukan berarti
kalah, bahwa memberikan mainannya kepada temannya tidak akan membuat buah hati
kita rugi.
Ibu harus lebih sabar ketika
memberikan pengertian bahwa memberi itu adalah hal yang mulia daripada
membanggakan sesuatu yang dia punya kepada temannya. Sulit, tapi itu harus
tetap Ibu ajarkan karena itu akan melatih jiwa buah hati yang lebih bersih
sehingga kelak dewasa dia akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih
bisa diandalkan teman-temannya dalam setiap keadaan.
Penanaman karakter tidak bisa
dipaksakan, harus terus-menerus dengan kesabaran Ibu.
Buah hati yang belum berani jangan
malah dikatakan penakut, karena dengan terus dikatakan penakut, hal itu akan
tertanam bahwa dia adalah orang yang penakut.
Memarahi buah hati dibawah usia 7
tahun jangan pernah dilakukan, karena marah yang Ibu ajarkan akan dilakukannya
juga ketika dia merasa perlu mengeluarkan amarah tersebut. Jangan terprovokasi oleh anak yang sedang marah. Menjauh sejenak merupakan strategi yang bagus untuk menormalkan kondisi anak yang sedang marah. Selain menenangkan Ibu, buah hati akan
belajar mengerti bahwa dengan penghindar sebentar berbarti Ibu tidak sepakat
dengan yang buah hati lakukan.
Dan karakter yang paling pertama
harus ditanamkan kepada sang buah hati adalah rasa cinta karena tanpa rasa
cinta semua yang dilakukan untuk buah hati akan terasa semu. Dengan diiringi
cinta terdalam yang Ibu berikan kepada buah hati akan terasa kepada buah hati disetiap
sentuhan, tatapan, senyuman, tangisan Ibu yang penuh cinta, sehingga membuat
sang buah hati menjadi orang yang penuh cinta dan penuh kasih tentunya.
Waktu untuk Belajar
Belajar yang biasanya diawali
dengan bernyanyi, berhitung dan membaca tidak boleh dipaksakan kepada buah
hati. Tiap buah hati akan ada masa perkembangan dan masa yang tepat untuk
belajar dengan konsentrasi adalah di usia 7 tahun.
Bermain adalah belajar yang sebenarnya untuk buah hati yang masih berusia
dibawah 7 tahun. Seberapa cepat pun
usia buah hati yang Ibu ajarkan berhitung ataupun membaca tidak akan berbeda
dengan buah hati lain yang mulai menghitung atau membaca diusia 7 tahun. Perbedaannya hanya
terletak pada siapa yang lebih dulu. Bisa jadi sang buah hati akan kehilangan masa-masa yang seharusnya bermain bila ibu kurang mengetahui masa perkembangan buah hati. Rasa jenuh untuk belajar bisa
menguap disaat justru buah hati memerlukan konsentrasi untuk belajar dan ini
tentu merugikan buah hati.
Menyelipkan sesekali
tidaklah masalah, akan tetapi menekan
harus sudah bisa setelah diajarkan sekian waktu tidaklah tepat. Buah hati yang
lebih dulu bisa berhitung belum tentu lebih cerdas di kemudian hari daripada buah hati yang hanya bisa
bernanyi ataupun menari. Seiring usianya akan sampai juga pada masanya buah
hati ingin belajar dengan serius.
Ibu yang Bijak
Terakhir, Ibu yang bijak akan
menjadikan buah hati lebih natural dalam bersikap, tidak berlebihan dan pada
akhirnya akan menjadikan buah hati yang selalu menyejukkan hati Ibu, Ayah dan
orang disekitarnya disetiap masa yang dilalui bersama. Akan penuh makna, lebih
berkesan dan buah hati akan menjadi orang yang bisa menjadi pemimpin untuk
dirinya dan orang lain.


