Dinasti Kekuasaan
Pejabat
di Negara Kita
Salah
satu tema berita yang sedang beredar saat ini adalah dinasti kekuasaan.
Dimana-mana
kita akan jumpai dinasti kekuasaan dalam pemerintahan di negeri tercinta ini.
Mungkin
yang sedang santer diberitakan saat ini adalah Gubernur Ratu Atut beserta
keluarganya. Akan tetapi pada dasarnya hampir diseluruh jenjang pemerintahan di
tanah air ini, dari pelosok desa atau kelurahan hingga petinggi negara tercinta
ini, yang terlihat menyindir gubernur Ratu Atut dengan dinasti kekuasaan, pada
dasarnya tidak ada bedanya.
Sejarah
Dinasti kekuasaan
Dinasti
kekuasaan selalu berulang sejak jaman pemerintahan pertama kali dengan sistem
kerajaan.
Hal
yang lumrah terjadi adalah ketika masyarakat kecewa atau sudah jenuh dengan
kepemimpinan raja saat itu maka solusi yang diambil adalah kudeta kerajaan oleh
sekelompok oposisi. Lalu raja pun berganti dan terbentuklah dinasti kekuasaan
yang baru. Dan jika ada kekecewaan lagi maka kudeta adalah solusi yang selalu
diambil, terus bergulir seperti itu.
Ketika
jaman Rosul pun dinasti kekuasaan tetap ada, yang menjabat adalah orang yang
dekat dengan pemegang kekuasaan saat itu.
Demokrasi
kemudian datang dan suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah setelah itu
kekecewaan selesai, tidak, karena ternyata suara Tuhan bisa dibeli. Mungkin
bukan langkah kudeta yang diambil oleh oposisi saat ada kekecewaan, akan tetapi
tetap saja penggalangan masa adalah bentuk kecil dari kudeta, hanya lebih
halus, sedikit.
Penentuan Pemegang Kekuasaan
Menentukan
siapa yang tepat untuk memegang kekuasaan apakah salah dengan cara seorang raja
menyerahkan mahkotanya kepada putranya? Tidak, selama sang putra bisa
diandalkan menjadi seorang raja yang bijak dan adil, tentu akan aman dan damai
kerajaan tersebut.
Ketika
jaman Rosul pemegang kekuasaan tak jauh dari orang disekitar Rosul. Apakah
salah? Tidak, karena kita bisa lihat betapa jayanya Islam didunia ini saat itu
dengan Rahmatan Lil Alamin yang diterapkan oleh penguasa yang merupakan orang
dekat Rosul.

Pemilihan
pemimpin Negara dengan demokrasi apakah salah? Tidak, selama orang yang dipilih
adalah orang yang jujur dan bertanggungjawab terhadap jabatan yang diembannya.
Siapakah yang Layak Memegang Kekuasaan
Ada
yang bilang jika kekuasaan berada ditangan orang dekat saja maka kesempatan itu
tidak akan sampai kepada orang lain untuk mencoba mengemban kekuasaan tersebut.
Lantas, apakah jika suatu jabatan diserahkan bukan kepada orang dekat pemegang
kekuasaan maka dia akan lebih bertanggungjawab daripada orang dekat pemegang kekuasaan?
Jawabannya tentulah belum tentu.
Sekelumit
saja ilmu Manajemen SDM dalam menyeleksi karyawan pun salah satunya adalah
dengan cara Nepotisme ternyata juga menjadi pilihannya, kenapa? Karena biaya
yang dikeluarkan perusahaan untuk mencari karyawan baru hanya sedikit, tak
perlu mengadakan seleksi karyawan yang membutuhkan dana besar, orang dekat yang
diangkat menjadi karyawan baru pun bisa lebih dipercaya karena merupakan orang
dekat yang sudah kita tahu kredibilitasnya.
Lalu
apakah kita harus menyalahkan dinasti kekuasaan disaat kekuasaan yang
dipegangnya dapat dipertanggungjawabkan? Tidak, kenapa? Karena kekuasaan berada
ditangan siapapun tetaplah bentuk tanggungjawabnya sama, terhadap perkerjaan
yang dibebankan, sama pula terhadap orang-orang yang berada dibawah
kekuasaannya, siapapun itu pendukung ataupun bukan pendukungnya.
Jadi,
masih kah kita harus menyalahkan dinasti kekuasaan?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar