Sabtu, 19 Oktober 2013

Dinasti Kekuasaan



Dinasti Kekuasaan

Pejabat di Negara Kita
Salah satu tema berita yang sedang beredar saat ini adalah dinasti kekuasaan.
Dimana-mana kita akan jumpai dinasti kekuasaan dalam pemerintahan di negeri tercinta ini. 

Mungkin yang sedang santer diberitakan saat ini adalah Gubernur Ratu Atut beserta keluarganya. Akan tetapi pada dasarnya hampir diseluruh jenjang pemerintahan di tanah air ini, dari pelosok desa atau kelurahan hingga petinggi negara tercinta ini, yang terlihat menyindir gubernur Ratu Atut dengan dinasti kekuasaan, pada dasarnya tidak ada bedanya.

Sejarah Dinasti kekuasaan
Dinasti kekuasaan selalu berulang sejak jaman pemerintahan pertama kali dengan sistem kerajaan.
Hal yang lumrah terjadi adalah ketika masyarakat kecewa atau sudah jenuh dengan kepemimpinan raja saat itu maka solusi yang diambil adalah kudeta kerajaan oleh sekelompok oposisi. Lalu raja pun berganti dan terbentuklah dinasti kekuasaan yang baru. Dan jika ada kekecewaan lagi maka kudeta adalah solusi yang selalu diambil, terus bergulir seperti itu.

Ketika jaman Rosul pun dinasti kekuasaan tetap ada, yang menjabat adalah orang yang dekat dengan pemegang kekuasaan saat itu.
Demokrasi kemudian datang dan suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah setelah itu kekecewaan selesai, tidak, karena ternyata suara Tuhan bisa dibeli. Mungkin bukan langkah kudeta yang diambil oleh oposisi saat ada kekecewaan, akan tetapi tetap saja penggalangan masa adalah bentuk kecil dari kudeta, hanya lebih halus, sedikit.

Penentuan Pemegang Kekuasaan
Menentukan siapa yang tepat untuk memegang kekuasaan apakah salah dengan cara seorang raja menyerahkan mahkotanya kepada putranya? Tidak, selama sang putra bisa diandalkan menjadi seorang raja yang bijak dan adil, tentu akan aman dan damai kerajaan tersebut.
Ketika jaman Rosul pemegang kekuasaan tak jauh dari orang disekitar Rosul. Apakah salah? Tidak, karena kita bisa lihat betapa jayanya Islam didunia ini saat itu dengan Rahmatan Lil Alamin yang diterapkan oleh penguasa yang merupakan orang dekat Rosul.
Pemilihan pemimpin Negara dengan demokrasi apakah salah? Tidak, selama orang yang dipilih adalah orang yang jujur dan bertanggungjawab terhadap jabatan yang diembannya.
Siapakah yang Layak Memegang Kekuasaan
Ada yang bilang jika kekuasaan berada ditangan orang dekat saja maka kesempatan itu tidak akan sampai kepada orang lain untuk mencoba mengemban kekuasaan tersebut. Lantas, apakah jika suatu jabatan diserahkan bukan kepada orang dekat pemegang kekuasaan maka dia akan lebih bertanggungjawab daripada orang dekat pemegang kekuasaan? Jawabannya tentulah belum tentu.
Sekelumit saja ilmu Manajemen SDM dalam menyeleksi karyawan pun salah satunya adalah dengan cara Nepotisme ternyata juga menjadi pilihannya, kenapa? Karena biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk mencari karyawan baru hanya sedikit, tak perlu mengadakan seleksi karyawan yang membutuhkan dana besar, orang dekat yang diangkat menjadi karyawan baru pun bisa lebih dipercaya karena merupakan orang dekat yang sudah kita tahu kredibilitasnya.
Lalu apakah kita harus menyalahkan dinasti kekuasaan disaat kekuasaan yang dipegangnya dapat dipertanggungjawabkan? Tidak, kenapa? Karena kekuasaan berada ditangan siapapun tetaplah bentuk tanggungjawabnya sama, terhadap perkerjaan yang dibebankan, sama pula terhadap orang-orang yang berada dibawah kekuasaannya, siapapun itu pendukung ataupun bukan pendukungnya.
Jadi, masih kah kita harus menyalahkan dinasti kekuasaan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar