Pemilu
Pemilihan
Umum adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi
jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam,
mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala
desa. Pada konteks yang lebih luas, Pemilu dapat juga berarti proses mengisi
jabatan-jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata
'pemilihan' lebih sering digunakan.
Pemilu merupakan salah satu usaha untuk
memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika,
public relations, komunikasi massa, lobby dan lain-lain kegiatan. Meskipun
agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye
pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh
para kandidat atau politikus selaku komunikator politik.
Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga
disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan
janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan
selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara.
Setelah pemungutan suara dilakukan, proses
penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem
penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para
peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.
Pemilihan umum di Indonesia menganut asas ‘Luber’
yang merupakan singkatan dari ‘Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia’. Asal ‘Luber’
sudah ada sejak zaman Orde Baru. Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan
suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Umum berarti pemilihan
umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan
suara. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan
dari pihak manapun, kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih
bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri.
Kemudian di era reformasi berkembang pula asas
‘Jurdil’ yang merupakan singkatan dari ‘Jujur dan Adil’. Asas jujur mengandung
arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk
memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai
dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk
menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Asas adil adalah perlakuan yang
sama terhadap peserta pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun
diskriminasi terhadap peserta atau pemilih tertentu. Asas jujur dan adil
mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun peserta pemilu, tetapi juga
penyelenggara pemilu (Wikipedia).
Media
Elektronik Sebagai Alat Kampanye
Pada kenyataanya
kampanye tidak hanya dilakukan pada saat akan pemilu akan tetapi dilakukan
jauh-jauh hari sebelum pemilu dilaksanakan.
Banyak cara untuk
melakukan kampanye dan media elektronik adalah salah satu diantaranya yang
lebih sering digunakan para pejabat atau lebih sering disebut politikus.
Kampanye dikategorikan
ada tiga, yang pertama adalah kampanye secara terang-terangan. Misalkan dilakukan
dengan cara mengkampanyekan politikus tertentu menggunakan iklan di TV yang
memaparkan hal-hal baik yang dimiliki politikus tersebut.
Yang kedua adalah
kampanye secara terselubung, misalkan pada suatu acara pemberian penghargaan
kepada atlet atau orang yang mengharumkan nama bangsa yang diliput media
elektronik hadir pula salah satu politikus untuk memberikan penghargaan
sehingga memberikan citra positif terhadap politikus tersebut.
Sedangkan yang ketiga
adalah kampanye hitam yaitu kampanye yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan
politiknya. Misalkan dalam suatu diskusi media elektronik salah seorang
politikus menyebutkan keburukan-keburukan lawan politiknya secara terus menerus
dalam diskusi tersebut.
Tiada
Hari Tanpa Kampanye Hitam
Dari ketiga macam bentuk
kampanye diatas kita akan lebih sering menemukan kampanye hitam seperti seorang
politikus menggambarkan keburukan-keburukan lawan politiknya atau seorang
politikus menggambarkan keburukkan partai lawan politiknya, dan ini hampir
setiap hari kita temukan di media elektronik.
Sungguh miris, kenapa?
Karena dengan dimulainya salah satu politikus menjelekkan politikus atau lawan
partainya maka hal itu akan memancing lawan politikusnya itu untuk melakukan
hal yang sama. Dan itu tak pernah henti-hentinya terjadi di negeri ini, setiap
hari, setiap waktu, disetiap media elektronik.
Apakah hal ini membuat
kita menjadi mengerti apakah itu politik, tentu tidak, justru hal ini akan
membuat kita muak dengan politik tersebut, sangat buruk dan isinya hanya
orang-orang yang saling menjelekkan lawan politiknya.
Sehingga tak ada hari
tenang dalam berpolitik, hari selalu hitam dan buruk dalam politik.
Dan efeknya dengan
berkampanye seperti itu akan membuat masyarakat yang merupakan para konstituen,
yang artinya adalah pemilih yang akan berpartisipasi dalam kancah politik,
menjadi enggan untuk terlibat dalam politik. Jangan kan terlibat sebagai orang
yang ada di dalam salah satu penggerak politik, sebagai pendukung yang hanya
perlu memberikan suaranya pada pemilihan umum pun belum tentu masyarakat mau
datang.
Dan efeknya lagi dengan
setiap yang berbau politik masyarakat akan berkata, ‘ah politik tai kucing’ bau
dan kotor. Dan jadilah bangsa ini bangsa yang apatis terhadap politik. Apatis
terhadap segala hal yang bersinggungan dengan kerja pemerintah. Apatis dengan
apapun model perencanaan yang diajukan pemerintah tingkat manapun, bangsa yang
apatis.
Sehingga jayalah terus
para politikus kotor tersebut di tanah air tercinta ini karena yang terlibat
dalam politik adalah orang-orang sekitar mereka, orang-orang yang tak jauh dari
mereka, karena apa? Karena di negeri ini satu-satunya cara untuk menentukan
siapakah yang pantas menjadi pejabat pemerintahan, pemimpin bangsa ini adalah
melalui pemilihan umum, jika kita tidak peduli dengan buruknya politik bangsa
ini dengan tidak mengikuti pemilihan umum, maka jangan harap perpolitikan
bangsa ini akan berubah.
Jika
Ingin Bangsa Ini Berubah Bergeraklah
Lalu apakah yang harus
kita lakukan? Dengan diam dan mengumpat dibelakang tentu tak memberikan solusi,
malah bisa jadi kita pun sama dengan para politikus yang kotor itu, saling
menjelekkan.
Lalu apakah yang bias
kita lakukan? Tentulah dengan bergerak, bergerak untuk mendukung politik yang
lebih bersih.
Hal pertama yang harus
anda lakukan adalah tidak diam saja menerima semua yang disampaikan media
elektronik. Carilah info, berita atau apapun tentang politik, dan ini tetap
bisa anda lakukan di media elektronik. Mencari berita dan paling utama adalah anda mencari dengan rasa
ingin tahu sehingga anda tidak hanya akan terbentur pada satu opini dari media
elektronik tertentu.
Tak mudah memang
mengkategorikan berita apa yang harus anda cari, tapi mungkin anda bisa
memulainya dengan segala macam penghargaan yang diberikan oleh tatanan
pemerintah tingkat nasional atau internasional. Lalu setelah itu anda
mencocokan dengan berita terkait lain apakah pantas orang tersebut menerima
penghargaan tersebut, sehingga anda tidak mendapatkan politikus berpenghargaan
semu.
Bangsa ini ditentukan
oleh tangan kita sendiri, bangsa Indonesia. Oleh sebab itu jangan lah kita
berlepas tangan terhadap apa yang terjadi dengan bangsa ini jika anda tidak
ingin melihat bangsa ini hancur. Jangan lah jadi bangsa yang apatis. Bangsa
yang apatis adalah bangsa yang akan selalu terpuruk, tenggelam dalam masalah,
dan bergantung pada orang lain dan berlepas tangan terhadap apapun yang
terjadi.
Sungguh bangsa yang
sangat menyedihkan karena jika masa ini terus berlangsung terus menerus maka
lambat laut bangsa ini akan hilang tanpa kebanggaan, tanpa pesona, tanpa gairah
hanya penuh dengan keburukan.
Oleh karena itu
bergeraklah, janganlah menjadi bangsa yang apatis.
LeHa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar