Senin, 28 Oktober 2013

JANGAN JADI BANGSA APATIS



Pemilu
Pemilihan Umum adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas, Pemilu dapat juga berarti proses mengisi jabatan-jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata 'pemilihan' lebih sering digunakan.
Pemilu merupakan salah satu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan lain-lain kegiatan. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakai oleh para kandidat atau politikus selaku komunikator politik.
Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara.
Setelah pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.
Pemilihan umum di Indonesia menganut asas ‘Luber’ yang merupakan singkatan dari ‘Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia’. Asal ‘Luber’ sudah ada sejak zaman Orde Baru. Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan suara. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak manapun, kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri.
Kemudian di era reformasi berkembang pula asas ‘Jurdil’ yang merupakan singkatan dari ‘Jujur dan Adil’. Asas jujur mengandung arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Asas adil adalah perlakuan yang sama terhadap peserta pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap peserta atau pemilih tertentu. Asas jujur dan adil mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun peserta pemilu, tetapi juga penyelenggara pemilu (Wikipedia).

Media Elektronik Sebagai Alat Kampanye
Pada kenyataanya kampanye tidak hanya dilakukan pada saat akan pemilu akan tetapi dilakukan jauh-jauh hari sebelum pemilu dilaksanakan.
Banyak cara untuk melakukan kampanye dan media elektronik adalah salah satu diantaranya yang lebih sering digunakan para pejabat atau lebih sering disebut politikus.
Kampanye dikategorikan ada tiga, yang pertama adalah kampanye secara terang-terangan. Misalkan dilakukan dengan cara mengkampanyekan politikus tertentu menggunakan iklan di TV yang memaparkan hal-hal baik yang dimiliki politikus tersebut.
Yang kedua adalah kampanye secara terselubung, misalkan pada suatu acara pemberian penghargaan kepada atlet atau orang yang mengharumkan nama bangsa yang diliput media elektronik hadir pula salah satu politikus untuk memberikan penghargaan sehingga memberikan citra positif terhadap politikus tersebut.
Sedangkan yang ketiga adalah kampanye hitam yaitu kampanye yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan politiknya. Misalkan dalam suatu diskusi media elektronik salah seorang politikus menyebutkan keburukan-keburukan lawan politiknya secara terus menerus dalam diskusi tersebut.

Tiada Hari Tanpa Kampanye Hitam
Dari ketiga macam bentuk kampanye diatas kita akan lebih sering menemukan kampanye hitam seperti seorang politikus menggambarkan keburukan-keburukan lawan politiknya atau seorang politikus menggambarkan keburukkan partai lawan politiknya, dan ini hampir setiap hari kita temukan di media elektronik.
Sungguh miris, kenapa? Karena dengan dimulainya salah satu politikus menjelekkan politikus atau lawan partainya maka hal itu akan memancing lawan politikusnya itu untuk melakukan hal yang sama. Dan itu tak pernah henti-hentinya terjadi di negeri ini, setiap hari, setiap waktu, disetiap media elektronik.
Apakah hal ini membuat kita menjadi mengerti apakah itu politik, tentu tidak, justru hal ini akan membuat kita muak dengan politik tersebut, sangat buruk dan isinya hanya orang-orang yang saling menjelekkan lawan politiknya.
Sehingga tak ada hari tenang dalam berpolitik, hari selalu hitam dan buruk dalam politik.
Dan efeknya dengan berkampanye seperti itu akan membuat masyarakat yang merupakan para konstituen, yang artinya adalah pemilih yang akan berpartisipasi dalam kancah politik, menjadi enggan untuk terlibat dalam politik. Jangan kan terlibat sebagai orang yang ada di dalam salah satu penggerak politik, sebagai pendukung yang hanya perlu memberikan suaranya pada pemilihan umum pun belum tentu masyarakat mau datang.
Dan efeknya lagi dengan setiap yang berbau politik masyarakat akan berkata, ‘ah politik tai kucing’ bau dan kotor. Dan jadilah bangsa ini bangsa yang apatis terhadap politik. Apatis terhadap segala hal yang bersinggungan dengan kerja pemerintah. Apatis dengan apapun model perencanaan yang diajukan pemerintah tingkat manapun, bangsa yang apatis.
Sehingga jayalah terus para politikus kotor tersebut di tanah air tercinta ini karena yang terlibat dalam politik adalah orang-orang sekitar mereka, orang-orang yang tak jauh dari mereka, karena apa? Karena di negeri ini satu-satunya cara untuk menentukan siapakah yang pantas menjadi pejabat pemerintahan, pemimpin bangsa ini adalah melalui pemilihan umum, jika kita tidak peduli dengan buruknya politik bangsa ini dengan tidak mengikuti pemilihan umum, maka jangan harap perpolitikan bangsa ini akan berubah.

Jika Ingin Bangsa Ini Berubah Bergeraklah
Lalu apakah yang harus kita lakukan? Dengan diam dan mengumpat dibelakang tentu tak memberikan solusi, malah bisa jadi kita pun sama dengan para politikus yang kotor itu, saling menjelekkan.
Lalu apakah yang bias kita lakukan? Tentulah dengan bergerak, bergerak untuk mendukung politik yang lebih bersih.
Hal pertama yang harus anda lakukan adalah tidak diam saja menerima semua yang disampaikan media elektronik. Carilah info, berita atau apapun tentang politik, dan ini tetap bisa anda lakukan di media elektronik. Mencari berita dan  paling utama adalah anda mencari dengan rasa ingin tahu sehingga anda tidak hanya akan terbentur pada satu opini dari media elektronik tertentu.
Tak mudah memang mengkategorikan berita apa yang harus anda cari, tapi mungkin anda bisa memulainya dengan segala macam penghargaan yang diberikan oleh tatanan pemerintah tingkat nasional atau internasional. Lalu setelah itu anda mencocokan dengan berita terkait lain apakah pantas orang tersebut menerima penghargaan tersebut, sehingga anda tidak mendapatkan politikus berpenghargaan semu.
Bangsa ini ditentukan oleh tangan kita sendiri, bangsa Indonesia. Oleh sebab itu jangan lah kita berlepas tangan terhadap apa yang terjadi dengan bangsa ini jika anda tidak ingin melihat bangsa ini hancur. Jangan lah jadi bangsa yang apatis. Bangsa yang apatis adalah bangsa yang akan selalu terpuruk, tenggelam dalam masalah, dan bergantung pada orang lain dan berlepas tangan terhadap apapun yang terjadi.
Sungguh bangsa yang sangat menyedihkan karena jika masa ini terus berlangsung terus menerus maka lambat laut bangsa ini akan hilang tanpa kebanggaan, tanpa pesona, tanpa gairah hanya penuh dengan keburukan.
Oleh karena itu bergeraklah, janganlah menjadi bangsa yang apatis.
LeHa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar