Bulan ini Bianco berumur 4 tahun, tepatnya 11 September 2014.
Tak terasa sudah 4 tahun, seperti tak ada yang berubah karena aku dan Bianco selalu bersama-sama kemana pun aku pergi.
Yup, aku selalu bersama anakku kemana pun aku pergi, ke kantor, ke rumah teman, ke rumah saudara, jalan-jalan atau tidur sekalipun.
Bukan berarti tak bersama Abinya, Abinya Bianco kerja seperti suami yang lain sehingga waktu kami bertiga adalah ketika pagi, pulang kerja dan hari libur.
Sampai-sampai sudah pakem di ucapan Bianco bahwa kami adalah bertiga, "Bianco mau berenang sama Abi sama Bunda sama Bianco", "Bianco mau pulang kampung naek pesawat sama Abi sama Bunda sama Bianco", selalu Bianco ucapkan berulang bahwa apa yang dia lakukan akan dilakukan bertiga.
Mungkin aku salah satu orangtua yang khawatir untuk melepas anak kepada orang lain, aku sulit percaya jika tak ada alasan kuat untuk mempercayai orang tersebut.
Sehingga Bianco tak banyak main diluar, jika main diluar pasti akan bersamaku atau suamiku, atau paling tidak dengan orang yang sudah aku percaya.
Anak bukanlah sembarang, anak adalah titipan, yang akan dipertanggungjawabkan nanti dihadapan Tuhan.
Anak adalah apa yang telah kau janjikan untukNya nanti, sehingga untuk mencapai janji itu tak cukup hanya dengan mempercayakan kepada alam dan lingkungan.
Cita-citaku untuk anakku sangatlah besar, tak terucap karena tertanam dihati, cita-cita untuknya di dunia ini, dan di akhirnya nanti.
Yang pertama kutanamkan adalah menjadi anak baik, anak baik adalah sholeh, anak sholeh adalah anak yang disayang Tuhan. Simple. Tapi tak sesimple memptraktekkannya. Seperti hormat kepada yang lebih tua. Mengajarkan anak untuk hormat kepada orang yang lebih tua untuk menyalami ketika bertemu, tak membuat kegaduhan didepannya tidaklah mudah. Seperti juga mengajarkan Bianco sholat untuk mau berdiri disamping Abinya tidaklah mudah. Mengajarkan nilai dasar memanglah butuh kesabaran dan ketekunan. Dan jangan ada pemaksaan, jadi teruslah mengajarkan tanpa bosan atau membandingkan dengan anak lain, tunggulah dan akan tiba saatnya anak mengerti.
Dan di usia 4 tahun ini Bianco sudah mulai mengerti. "Bianco tadi sholatnya baik tidak?" lalu dijawab Bianco sambil mengernyitkan dahi dan penuh semangat, "Bianco sholatnya tidak baik Bunda tadi lari-lari gitu!?". Bianco mulai memahami bahwa sholat dengan lari-lari tidak baik meskipun dia belum bisa mempraktekkan secara benar sholat harus diam tapi dia sudah paham bahwa apa yang dia lakukan adalah salah, satu langkah setidaknya sudah di dapat, bahwa dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Bianco mungkin di usianya yang 4 tahun ini tak sama dengan anak se usia di saat ini. setidaknya tak banyak. Saat ini anak se usia Bianco biasanya sudah bergaul dengan banyak orang, mengambil yang dia mau tanpa kontrol penuh dari orangtua, dan biasanya dianggap hal yang lucu dan luar biasa karena sudah lebih dewasa dari umurnya. Untukku itu cukup prihatin karena anak tersebut melalui masa kecilnya sebentar saja, sehingga nilai dasar yang harus ditanamkan seusia itu agak sulit diterapkan. Atau setidaknya pemahaman dasar yang harusnya dimiliki terlewatkan karena anak tersebut sudah melompat ketahap berikutnya mengikuti orang dewasa disekitarnya.
Dan pada akhirnya di usia Bianco yang 4 tahun ini aku bersyukur bahwa setidaknya aku masih bisa menjaganya dari nilai negatif yang ada di luar rumah, bisa membentuknya untuk cinta tanah air dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengajarkan kepadanya bahwa kita harus malu, takut dan berharap hanya kepada Tuhan.
Met Milad Bianco sayang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar