Saat itu pertama
kalinya aku memasuki kelas baruku ketika duduk di kelas 1 SMEA Negeri
dibilangin Kota, Jakarta Barat. Aku datang tidak terlambat tetapi kelas telah
penuh, maklum kelas baru, semua antusias.
Aku berdiri di depan
pintu lalu masuk sedikit kedalem untuk mencari bangku yang kosong. Kursi
dibelakang rata-rata sudah penuh, meskipun antusias ternyata hampir semua tak
berani duduk di depan.
Tiba-tiba seorang anak
perempuan yang duduk sendirian di urutan terdepan baris kedua dari pintu menoleh
kearahku, dengan penuh ceria, semangat dan sedikit berteriak meminta aku duduk
disampingnya, “disini aja duduknya sama aku ya! namaku F(cukup inisial)”,
katanya. Aku cukup terkejut karena permintaannya yang penuh semangat, lalu aku mengiyakan,
memperkenalkan nama dan mengobrollah kami dengan santai sampai bel kelas
berbunyi dan guru datang.
Ketika jam istirahat
berbunyi teman baruku mengajakku makan siang ke kantin tapi aku menjawab bahwa
aku ingin sholat dzuhur dulu baru makan, dan dia terkejut sambil berkata “Oh
Lenny Islam ya?!” aku cuma mengangguk, sedikit bingung.
Sehabis sholat dzuhur
dan masih duduk di Mushola ada yang menghampiriku, namanya H(juga cukup
inisial, yang pasti namanya bahasa Arab), dengan terkejut H berkata “Oh Lenny
Islam, kok duduk disana tadi?” aku yang bingung menjawab “memangnya kenapa?”
lantas H berkata “ itukan deretan anak Kristen” dan masih dengan
kebingungan aku menjawab “Ooh, memang harus dipisah gitu ya?” ragu H menjawab
“nggak tau juga sih, tadi ada anak Islam yang duduk di baris pertama dari pintu
tapi ada yang tegur dan bilang jangan duduk disitu karena sudah ada orangnya.
Nanti habis makan cari tempat duduk dibaris ketiga atau keempat dari pintu aja
ya!?” katanya. Dengan ragu aku mengatakan tak akan enak dengan teman baru
sebangkuku tadi, tapi H meyakinkan kalau aku tidak pindah aku tidak akan nyaman
dan akan dicuekin. Dan benar saja, ketika aku masuk kelas lagi F memunggungiku
dan menjadi ceria kembali ketika aku pamit untuk pindah tempat duduk.
Kesan pertama dikelas
baru memang sungguh tak kan terlupa, mungkin dulu karena aku belum berhijab dan namaku bukan bahasa Arab jadinya terlihat seperti anak keturunan. Tapi
kenapa harus dipisah. Rasa nasionalisku terusik.
Saat ini pun aku yang
sudah berhijab tetap tak habis fikir, kenapa harus dipisah.
Bukankah kita sama-sama
ingin menimba ilmu yang sama, diruangan yang sama dan guru yang sama. Kenapa
kelas harus dibelah menjadi dua, kenapa harus dikotak-kotakkan.
LeHa
Pengalaman hari pertama di SMEA
BalasHapus