Ujian akhir kelas 3
SMEA-ku sudah di depan mata, sungguh hari-hari yang penuh dengan berbagai rasa.
Khawatir nilai tidak bagus, senang hampir lulus, bingung setelah ini akan
kemana, sedih karena akan banyak perpisahan.
Seiring berjalannya
waktuku selama tiga tahun ini, ada satu hal yang membuatku semakin cinta akan
sekolah ini, aku merasa semakin dekat dengan Tuhan. Kelas yang terbagi dua
karena agama. Candaan guru yang notabene punya kekuasaan terhadap murid yang agamanya berbeda. Candaan seorang teman tentang agamanya sendiri kepada temannya yang beda
agama. Menarik.
Perbedaaan agama antar
murid dengan murid, murid dengan guru, dan guru dengan guru yang jelas terbelah
dua ternyata membuatku semakin mencintai sekolah ini dan semakin mencintai
Tuhanku.
Sehingga genaplah
niatku untuk menggunakan hijab.
Mamaku menangis
terharu, karena sudah sedari kecil memintaku menggunakan hijab.
Teman-temanku yang
se-agama senang dan mendukung.
Teman-temanku yang
tidak se-agama terkejut namun tetap dengan senyum, tentunya setelah tiga tahun
kebersamaan yang kami lalui.
Guru-guru juga tampak
tersenyum ketika mengajar melihat perubahanku.
Dan tak akan ku
lupakan, seorang guru yang kini telah tiada, yang berbeda agama dengan ku,
berasal dari Sumatera Utara juga terlihat senang dengan perubahan penampilanku.
Dia adalah guru yang biasanya sedikit bercanda tentang agama di kelas, karena
aku seorang murid aku cukup diam dan terima.
Pak Guru tersebut
terkejut dengan penampilan baruku dan menghampiriku sambil menyodorkan
tangannya dan berkata “selamat ya Len sudah pakai kerudung, jadi lebih baik
lagi ya”, aku tertegun sejenak lalu tersenyum dan menyambut tangannya sambil
berucap “terimakasih Pak”.
Sungguh indah.
Leha
Pengalaman pertama menggunakan hijab
BalasHapus